21 August 2015

Buka Pintu, Buka Jendela

Akhirnya, jurnal pertama keluarga Samatha berhasil dibuka. Jurnal yang rencananya akan berisikan kisah-kisah hidup perjalanan seorang Renata Maria Samatha bersama keluarganya. Sebuah tempat yang akan digunakan sebagai rumah refleksi kami sekeluarga, keluarga Samatha.

Samatha diambil dari bahasa Pali yang berarti tenang, damai. Sebuah keadaan yang menjadi pusat niat kami. Istilah samatha salah satunya dapat dilihat melalui tautan berikut https://en.wikipedia.org/wiki/Samatha

Keluarga Samatha terdiri dari Atha, mama SisiL, dan papa Hans. Ada juga tambahan-tambahan anggota keluarga yang lain yang pasti akan masuk dalam cerita-cerita di jurnal ini. Sebut saja ada Umi, Eyang Yanti, Eyang Pit, Eyang Lili, Aunty, Ayah, Quinna, Uwi, dan masih banyak yang lain lagi.

Atha saat ini berusia 2 tahun 10 bulan. Yeaaay, sebentar lagi ulang tahun yang ke-3 tahun. Atha bisa dibilang merupakan anak yang cukup berani. Berani dalam arti, dia berani menjawab dan menanggapi pertanyaan orang lain selain keluarga. Karakternya cukup kuat. Dia mampu tampil menunjukkan apa dan siapa dirinya kepada orang lain. Dia bisa menjawab dan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang yang bahkan belum pernah dikenalnya.
Atha memiliki jiwa bebas. Bebas mau lari-lari, bebas mau teriak, bebas mau loncat-loncat. Atha berani minta makan jika perutnya terasa lapar. Berani minta jika dia rasa perlu, berani menolak jika ada yang tidak berkenan.

Atha itu anak yang memiliki kemauan yang keras. Tidak ada satu kata ‘Tidak’ yang langsung menghentikannya. Kalau tidak membahayakan biasanya akan dibiarkan saja. Seperti kemarin sore, makan keripik lalu setelah tinggal remah-remahnya, dia ‘tuangkan’ itu wadah kripik di lantai. Entah apa yang dicarinya. Atau bisa saja pada suatu hari kopi saya di meja makan sudah bercampur dengan tisue dan air putih, dan dituang-tuangkan dari satu wadah ke gelas, atau ke wadah yang lain. “Tata lagi masak.” Begitu jawabnya jika ditanya. Iseng. Iya, bisa saja dibilang begitu.

Atha itu iseng. Dia bisa sangat lucu dengan alasan-alasan yang dibuatnya. Seperti ketika dia tidak diijinkan untuk ikut bermain-main dengan laptop kerja mamanya, dia mencoba untuk tetap bisa main dengan berdalih dan mengatakan, “Tata mau pegang aja...” sambil tangannya menyentuh dan memegang layar laptop. Atau bisa dengan mengacak-acak alat makeup mamanya dengan alasan biar cantik kayak mama.

Atha itu keras kepala. Aduh, terdengar negatif ya.. apa ya padanannya untuk menunjukkan sikapnya yang keras jika sedang serius atau sedang melakukan sesuatu, tidak mau diberi arahan. Maunya melakukan sendiri. Saat ini, Atha berada pada fase negativistik, bawaannya marah-marah atau menangis. Tapi tidak lama kemudian, dia bisa teralih dan menceritakan hal tersebut sambil tersenyum atau tertawa. Seperti tadi malam, dia bermaksud membebat kaki boneka jerapahnya dengan tisue. Mungkin maksudnya diikat supaya tissue tersebut tidak terlepas, tetapi kemudian, karena memang tisue yang sifatnya mudah putus, selalu putus dan tidak berhasil dia bebatkan, belum lagi, dia belum memiliki kemampuan mengikat, maka tisue-pun tidak berhasil dibebatkan di kaki jerapahnya, dan mulailah dia berteriak-teriak dan menangis. “Niissaa...! Ihhh, Tata nissaaa..” sambil menjejak-jejakkan tangan dan kakinya. Saya pun menjelaskan bahwa tisue tidak bisa diikatkan ke kaki jerapah karena rapuh, saya mencoba menunjukkan kerapuhan tisue tersebut kepadanya. Mekipun tampaknya dia masih belum puas dan masih berteriak2 lagi.

Atha itu anak papanya (Daddy’s little girl). Bagaimana tidak, banyak kesenangan papanya, diturunkan ke Atha. Sebut saja senang makan pisang, senang jalan-jalan bereksplorasi, berenang, utek-utek, dan yang tidak bisa dibohongi yaitu wajahnya. Meskipun, saya sih lihatnya tetap ada kontribusi wajah saya kok di wajah Atha, kalau tidak, mana mungkin dia semanis itu... hihiiii.


Begitulah sekilas gambaran isi ‘rumah’ ini. Sesuai dengan judulnya “Buka pintu. Buka jendela” maka seperti itu jugalah isinya. Sila masuk dan mulai mengenal satu persatu tokohnya. Mari belajar bersama kami, untuk saling tertawa, saling berbagi, saling mendukung, saling mencinta, dan saling memahami. 

No comments:

Post a Comment