Seperti biasanya kalau sedang bersih-bersih. Dari niat membuang buku, tapi kemudian setelah dilihat-lihat lagi, ternyata sayang juga kalau mau dibuang. Alhasil jumlah buku tidak pernah berkurang, yang ada hanya berpindah tempat saja.
Tapi kali ini sih, saya belajar 'tega', karena niat hidup minimalist. Beberapa buku memang sudah pantas dibuang, atau diberikan kepada orang lain.
#Atha3yo seringkali menunjukkan kepeduliannya dengan mencoba membantu. Dia mengambilkan buku-buku yang sebelumnya sudah saya pisah-pisahkan.
"Terimakasih (untuk niat baiknya), ya nak."
"iya, Mama." dengan senyum manisnya.
Setelah tiga hari bongkar-bongkar sejak Jumat malam, (lama karena 'galau' mau dibuang, atau disimpan. Trus kalau disimpan, mau disimpan dimana... hyaaa, hehee) rasanya Minggu sore ini penampilan ruang tamuku dengan rak buku pindahan dari kantor sudah (cukup) manis.
Sore itu biasalah diisi dengan ritual minum teh hangat.. Niatnya adalah duduk manis, sambil baca buku (dari rak yang sudah manis penampilannya) dan minum teh.. duuhh, surga dunia tuh kayaknya....
Yah, niat tinggal niat, baru mau dinikmati dengan gaya klasik, membaca sambil minum teh, rak buku yang sudah tampil cantik itu koyak bagian rak tengahnya.
Dada bergemuruh rasanya... tangan terkepal, napas mulai berat untuk ditarik, guratan dahi mulai mengerut dalam.. Duuh!! @^@((
...
...
marah?
...
...
...
ya iyalah!!
Siapa yang gak marah, hasil kerja seperti sia-sia. Si anak manis ini pun hampir jatuh karena naik-naik tadi.
"aduuuh, Atha. Kenapa naik-naik sih? Rusak tuh rak buku mama!"
"iya, rusak. Tata mau jatuh." jawabnya, malah mengadu bukannya merasa bersalah.
"iya, makanya ga naik-naik, tuh kan bukunya mama juga berantakan lagi. Ddduuuh!!"
"Mama, mama, liat.." celotehnya lagi ringan, ingin menunjukkan sesuatu
Saya ga mau menoleh, karena marah betul rasanya.
"Mama..mama liat Tata,... (bicara terus)"
"Ga mau." jawab saya ketus
"mama..Tata.. kajlkafjslkfdjsldkfjsdlkdfsksdfjsdlkf...", suaranya terdengar bergema di kepalaku.
Saya pun meledak, "Tata, diam.. diam.. mama lagi beresin buku."
Bukannya diam, dia masih bicara, "Mama, mama.. Tata ga mau nonton Arieng, Tata mau nonton Arieng duwa."
Dia terusss saja bicara..Ya Tuhan..
..
..
..
Di saat itu pula, kepala saya pun 'berbisik'. ..
..
''Duh, ngapain sih marah-marah? Anakmu tuh lebih berharga daripada rak buku tau nggak!';
'Iya, aku kan juga khawatir, untung nggak jatuh kan dia.';
'Alaaah, kamu kan mikirin rak buku kamu yang rusak kan?!';
'iya, juga sih hehee'
.
.
.
Saya pun berdiri meninggalkan buku-buku yang berserakan di lantai, mengambil teh dan segera ke teras depan untuk duduk menenangkan diri. Maksud hati adalah untuk melepaskan diri sejenak dari ocehan si anak manis itu. Tapi tidak lama bisa menenangkan diri, si krucil sudah muncul di samping, sambil menunjukkan kakinya.
"Mama, mama, Tata pake sendang, mama gak pake sendang, kaki mama kotong." Aduuh, masih ngoceh dia.
Tidak lama kemudian, dia beralih ke sisi kiri sambil melihat mataku dan bertanya, "Mama kenapa?"
Tidak tahan diam berlama-lama, saya pun mengangkat dan memangkunya. Saya pun berkata pelan, "Tata tahu gak, kenapa mama marah?
Mama khawatir, Tata jatuh.
Mama juga marah karena buku-buku mama jadi berantakan lagi."
Aku jelaskan dengan perlahan. Aku sengaja bicara pelan, agar dia belajar paham bahwa marahpun bisa diekspresikan dengan bicara baik-baik.
Aku tunggu sebentar sambil melihat ke wajahnya yang tertunduk di pangkuanku.
.
.
Tidak lama kemudian, dia pun berkata,"Maaf mama." sambil dia mencium dan memeluk saya.
..
Nyess... rasanya.
***