08 May 2017

Belajar, Pendidikan & Sekolah



Hampir setiap minggu, Atha berenang di Cibubur. Memang terbukti kesaktian si "Naga Air" ini. Pada saat umur 3 tahun saja, dia sudah berani masuk di kolam renang dalam tanpa menggunakan ban. 

Bukannya tanpa usaha lho.. Bahkan usaha ini melibatkan dua pihak, si anak dan kami orangtuanya. Usaha yang dilakukan si anak, tentu saja untuk memunculkan keberanian dan keinginannya mencoba. Sedangkan usaha yang kami lakukan sebagai orangtua adalah menahan diri kami. Kami sadar harus menyerahkan prosesnya kepada si anak.. Kapan dia mau, kapan dia coba, kapan dia takut, kapan dia lelah, kapan dia mau coba lagi, kapan dia mau coba yang lebih sulit dari sebelumnya, kapan dia merasa yakin dan mau mencoba tantangan yang lebih tinggi, dst.

Orangtua seringkali tidak sadar bahwa dia sedang mengambil alih peran tanggungjawab anak untuk belajar. Ketidaksadaran ini muncul pada orangtua yang merasa perlu memaksa atau mendorong anak dalam proses belajarnya. Bisa jadi mereka merasa si anak tidak akan mau belajar jika tidak ada dorongan motivasi dari orangtuanya. Namun demikian, perlu dipikirkan akibat negatif jangka panjang pemaksaan ini bagi anak. Perlu disadari bahwa anak akan menjadi tidak terlatih untuk mendengarkan dirinya sendiri. Mereka juga tidak lagi terbiasa untuk memiliki dorongan keingintahuan terhadap sesuatu.

Secara naluriah, semua anak sebetulnya memiliki keinginan yang sangat besar untuk belajar. Tidak ada satupun anak yang tidak suka belajar. Tidak ada satupun anak (normal) yang tidak punya keingintahuan. Semua ingin mereka ketahui, semua ingin mereka lihat, ingin mereka pegang, ingin mereka dengar, ingin mereka buat, ingin mereka lakukan. Semuanya.
Lihat saja bagaimana mereka bermain. Mereka akan mencobakan ide-idenya. Bagi kita yang sudah dewasa dan lupa rasanya menjadi anak, terkadang sulit melihat usaha coba-coba ini sebagai sebuah kerja keras bagi anak. Padahal menurut saya, pada saat inilah peran belajar mandiri dapat ditumbuhkan.
Ini sesuai yang dikatakan Piaget mengenai proses belajar anak dengan membangun pemahaman dan skema pengetahuan di kepalanya (ide constructivist). Piaget menelurkan teori belajar dari hasil pengamatannya terhadap perkembangan kemampuan berpikir anaknya sendiri. 
Ide constructivist dari Piaget menjelaskan bahwa setiap anak menunjukkan kemampuan mereka membangun pemahaman sesuai dengan tahapan perkembangannya.  

Ini menunjukkan bahwa belajar merupakan hal yang alamiah. Nah, sekarang bagaimana dengan istilah pendidikan (education). Menurut KBBI daring,

     "Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik."

Maurice Craft, seorang Research Professor di Universitas Greenwich membuat pembedaan istilah Education [Pendidikan] (dalam Bass & Good, 2004).
Di dalam bukunya "Education for Diversity", Craft menjelaskan istilah Education yang dapat berasal dari kata:
- educare: to train; to mold [untuk melatih dan membentuk], dan
- educere: to lead out [untuk mengeluarkan (potensi, kemampuan, dan daya upaya)]

Mari kita mulai membahas lebih lanjut mengenai kedua istilah tersebut.
Menurut Craft istilah pertama, Educare memiliki konsekuensi arti (dalam Bass & Good, 2004). Artinya, belajar adalah untuk mempertahankan dan menurunkan pengetahuan dalam rangka membentuk anak sesuai dengan gambaran ideal orangtua. Dengan demikian, penekanan pada hasil menjadi konsekuensi memenuhi gambaran ideal orangtua. Akibatnya usaha-usaha belajar yang sekiranya akan memberikan hasil nilai yang bagus akan sangat dihargai orangtua. Mengikuti les tambahan, ikut try out ujian, menuntut anak belajar, dst.
Tampaknya pemahaman educare inilah yang terwakili dalam pengertian pendidikan dalam KBBI daring. 

Istilah kedua Educere, adalah istilah yang berarti 'untuk mengeluarkan (potensi, kemampuan dan daya upaya, red)'. Pandangan educere ini peduli pada usaha mempersiapkan anak terhadap perubahan-perubahan yang selalu terjadi, memberikan kesempatan pada anak untuk belajar memecahkan masalah-masalah real yang kontekstual (yang belum terjadi dan mungkin bahkan belum diketahui). Dengan demikian, anak diharapkan dalam proses belajarnya banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan, baik pertanyaan reflektif maupun responsif terkait dengan sebuah masalah. Selain itu anak juga diharapkan memiliki kemandirian dalam berpikir dan berpendapat. Mereka dituntut untuk membangun logika berpikir yang terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan. Satu lagi, karena mereka disiapkan untuk siap di masa depannya, maka proses penciptaan dan kreasi pun tak luput menjadi penekanan.

Nah, kalau semua potensi, kemampuan, keinginan, daya upaya sudah ada dalam diri anak, lalu apa yang perlu dilakukan orangtua, dong? Lalu apa peran orangtua sebagai pendidik?

Jika di atas kita sudah membahas mengenai ide konstruktivistik dari Piaget, maka kita dapat membahasnya dengan ide konstruktivistik yang lain. Piaget percaya bahwa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, kebisaan dapat dibangun dari diri individu anak sendiri.
Vygotsky (seorang psikolog Rusia) menambahkan bahwa ada area yang hanya dapat dicapai, jika anak 'dibantu' oleh orang lain yang lebih paham [more knowledge others]. Area perkembangan optimal (Zone of Proximal Development) anak dapat dicapai jika ada oranglain yang bersedia memberikan pendampingan, pembimbingan, dan penyertaan, terhadap anak.

Lalu apa syarat agar tercapai kemampuan optimal anak pada area ZPD? 
MKO atau orang yang lebih paham dapat menerapkan sistem perancahan (scaffolding). Mirip seperti ketika membangun, kita membutuhkan 'bingkai pijakan' tempat bangunan dikerjakan. 


Jika pijakan dibutuhkan untuk proses pembangunan, maka sama dengan peran MKO adalah untuk membantu anak membangun sendiri 'bangunan pemahamannya'. Pendidikan semestinya mengutamakan proses yang dilewati anak, ketimbang proses yang dilewati MKO. MKO disini bisa orangtua, bisa guru, bisa teman-teman yang sudah paham. Bukan, bukan untuk mereka semua..

Mari kita lihat kembali definisi pendidikan dari KBBI. Di situ dapat ditinjau bahwa upaya dan usaha pendidikan ditempatkan pada MKO. "...upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik." Dari tinjauan tersebut, kita bisa lihat bahwa definisi ini mengacu pada istilah pendidikan, educare, ketimbang educere; melatih dan membentuk, ketimbang mengeluarkan potensi anak. Meskipun demikian, Bass & Good meyakini perlunya keseimbangan penerapan educare dan educere dalam setiap aspek pendidikan formal anak. 

Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah (rasanya) masih belum menjadi tempat belajar yang ideal. Para pendidik di sekolah masih berkutat pada bagaimana meningkatkan nilai-nilai ataupun kecepatan studi ketimbang memperhatikan proses educere. Sejarah sudah begitu banyak menunjukkan bahwa banyak dari orang sukses yang berhasil di masa tua padahal tidak berhasil di sekolahnya. Sebut saja Isaac Newton (penemu), Albert Einstein (ilmuwan), Michael Jordan (atlet Basket), Oprah Winfrey (pembawa acara), Walt Disney (pembangun brand Disney), Steve Jobs (pendiri Apple & Pixar), atau dari dalam negeri Bob Sadino (pengusaha), Andy F.Noya ('Kick Andy'), Purdi E. Chandra (pemilik bimbel 'Primagama'), Andrie Wongso ('motivator'), Hendy Setiono (pemilik 'Kebab Baba Rafi').

Jika begitu banyak orang sukses yang gagal di sekolah, jangan-jangan sekolah (yang) tidak mampu melihat kelebihan orang-orang ini. Bisa dipahami karena memang konsep educare yang menjadi pegangan institusi pendidikan formal saat ini.
Saya bukannya anti sekolah. Sama sekali tidak. Tentu saja tidak. Saya adalah bagian dari hasil pendidikan saya di sekolah. Hanya saja, pendidikan anak, menjadi prioritas saya sebagai orangtua, Filosofi pendidikan dalam keluarga seperti apa yang sekiranya akan mengeluarkan potensi terbaiknya. Dengan demikian, artinya konsep educere menjadi kiblat saya. 

Bass & Good (2004) menjelaskan dalam artikelnya bahwa anak yang bersekolah hanya untuk lulus tes tidak betul-betul siap menghadapi tantangan perubahan dunia. Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa keseimbangan peran educare dan educere sangat penting. Peran guru sebagai fasilitator bagi terjadinya proses belajar anak di sekolah perlu diberikan peran dan kebebasan yang cukup. Perubahan mindset dari mementingkan nilai menjadi mementingkan proses belajar perlu ditumbukan dalam diri guru. 

Idealnya seluruh stakeholder pendidikan dan proses belajar anak ikut serta terlibat. Maka, selain perubahan dalam intitusi sekolah dan guru, mindset ini pun perlu dimiliki oleh institusi keluarga dan orangtua sebagai lembaga pendidikan non-formal. Orangtua perlu memahami bahwa 

Untuk dapat menyeimbangkan peran kedua konsep education, maka dibutuhkan keterbukaan. Komunikasi dan pemahaman mengenai apa yang sedang dipelajari anak dapat menyumbang pada terjadinya keseimbangan. Selama anak tidak diberikan porsi mengambil keputusan, memilih, menimbang, menguji coba, coba salah, coba berhasil, coba gagal, coba lagi, coba lagi, maka proses belajar (sejatinya) tidak terjadi. 


***


Referensi:


Bass, R.V & Good, J.W. (2004). Educare and Educere: Is a Balance Possible in the Educational System? Educational Forum, The, Vol.68; No.2; p161-168; Winter 2004. (retrieved: https://eric.ed.gov/?id=EJ724880, May 2017)

29 August 2016

Blog Idola

Berikut ini adalah blog-blog yang patut dijadikan idola, 
1. www.rumahinspirasi.com, ini adalah website yang dikelola oleh pasangan suami isteri yang menjalankan program homeschooling bagi anak-anaknya. Yudis, Tata dan Duta merupakan contoh anak-anak yang belajar dengan bebas kapan pun, di manapun dengan siapapun. Persis seperti jargon dari klub oase, salah satu klub yang menjadi komunitas perkumpulan keluarga-keluarga pelaku homeschooling.

2. https://pondokserbaneka.wordpress.com/. Blog ini dikelola oleh mbak Citra, seorang bos radio KBR. Sepertinya blog pondokserbaneka ini memuat cerita-cerita keluarga mereka termasuk dengan Senja anak laki-laki satu-satunya. Baru tahu juga ternyata adalagi satu blog yang dijadikannya bahan buku Cheers, UK! (https://citradp.wordpress.com/) Yup... betul mbak Citra DP ini adalah penulis buku. Tambah keren kan...

3. http://josephine-ratna.blogspot.co.id/
Ini adalah blog milik seorang psikolog klinis. Saya mengidolai-nya karena artikel-artikelnya yang komunikatif dan cukup menarik untuk dibaca.


31 May 2016

Bukan Hatha tapi Atha-Yoga



Iya, #Atha3,5yo memang lagi doyan ikut-ikutan mamanya senam. Lihat saja gaya senam yang serius dilakukannya. Ini memang bukan hatha yoga, melainkan atha yoga.
Meskipun masih kecil, tapi dia sudah bisa diminta duduk tenang lho. (prok prok prok) hebaat yah...
hikks, terharu.


03 February 2016

'marah'ku 'diam'mu

Sudah beberapa hari ini, kesibukan di rumah tersita dengan 'membersihkan' ruang tamu dari buku-buku yang sudah tidak wajar jumlahnya. Kebetulan kantor sedang pindah ke gedung yang lebih kecil, maka koleksi buku-buku di kantor-pun terpaksa dibawa pulang. Tidak luput juga satu rak buku minimalis yang awalnya menghiasi meja kantor, sekarang mah boro-boro. Minimalis bok, seperti gaya hidup yang sedang ingin saya adopsi. 


Seperti biasanya kalau sedang bersih-bersih. Dari niat membuang buku, tapi kemudian setelah dilihat-lihat lagi, ternyata sayang juga kalau mau dibuang. Alhasil jumlah buku tidak pernah berkurang, yang ada hanya berpindah tempat saja. 
Tapi kali ini sih, saya belajar 'tega', karena niat hidup minimalist. Beberapa buku memang sudah pantas dibuang, atau diberikan kepada orang lain. 


#Atha3yo seringkali menunjukkan kepeduliannya dengan mencoba membantu. Dia mengambilkan buku-buku yang sebelumnya sudah saya pisah-pisahkan. 
"Terimakasih (untuk niat baiknya), ya nak." 
"iya, Mama." dengan senyum manisnya. 


Setelah tiga hari bongkar-bongkar sejak Jumat malam, (lama karena 'galau' mau dibuang, atau disimpan. Trus kalau disimpan, mau disimpan dimana... hyaaa, hehee) rasanya Minggu sore ini penampilan ruang tamuku dengan rak buku pindahan dari kantor sudah (cukup) manis. 

Sore itu biasalah diisi dengan ritual minum teh hangat.. Niatnya adalah duduk manis, sambil baca buku (dari rak yang sudah manis penampilannya) dan minum teh.. duuhh, surga dunia tuh kayaknya....

Yah, niat tinggal niat, baru mau dinikmati dengan gaya klasik, membaca sambil minum teh, rak buku yang sudah tampil cantik itu koyak bagian rak tengahnya. 

Kenapa? Karena si anak manis itu naik-naik seperti naik tangga.. Hhhhh...@#$^*((! M.A.R.A.H
Dada bergemuruh rasanya... tangan terkepal, napas mulai berat untuk ditarik, guratan dahi mulai mengerut dalam.. Duuh!! @^@((

...
...
marah?
...
...
...
ya iyalah!!
Siapa yang gak marah, hasil kerja seperti sia-sia. Si anak manis ini pun hampir jatuh karena naik-naik tadi. 

"aduuuh, Atha. Kenapa naik-naik sih? Rusak tuh rak buku mama!"
"iya, rusak. Tata mau jatuh." jawabnya, malah mengadu bukannya merasa bersalah.
"iya, makanya ga naik-naik, tuh kan bukunya mama juga berantakan lagi. Ddduuuh!!"
"Mama, mama, liat.." celotehnya lagi ringan, ingin menunjukkan sesuatu
Saya ga mau menoleh, karena marah betul rasanya. 
"Mama..mama liat Tata,... (bicara terus)"
"Ga mau." jawab saya ketus
"mama..Tata.. kajlkafjslkfdjsldkfjsdlkdfsksdfjsdlkf...", suaranya terdengar bergema di kepalaku.

Saya pun meledak, "Tata, diam.. diam.. mama lagi beresin buku."

Bukannya diam, dia masih bicara, "Mama, mama.. Tata ga mau nonton Arieng, Tata mau nonton Arieng duwa."

Dia terusss saja bicara..Ya Tuhan..
..
..
..

Di saat itu pula, kepala saya pun 'berbisik'. 
''Duh, ngapain sih marah-marah? Anakmu tuh lebih berharga daripada rak buku tau nggak!'; 
'Iya, aku kan juga khawatir, untung nggak jatuh kan dia.'; 
'Alaaah, kamu kan mikirin rak buku kamu yang rusak kan?!'; 

'iya, juga sih hehee'

.
.
.

Dan dia tetap bicara.."Tata diam kok.. Tata ga ngomong-ngomong lagi, tapi Tata mau nonton Arieng duwa."

Saya pun berdiri meninggalkan buku-buku yang berserakan di lantai, mengambil teh dan segera ke teras depan untuk duduk menenangkan diri. Maksud hati adalah untuk melepaskan diri sejenak dari ocehan si anak manis itu. Tapi tidak lama bisa menenangkan diri, si krucil sudah muncul di samping, sambil menunjukkan kakinya. 

"Mama, mama, Tata pake sendang, mama gak pake sendang, kaki mama kotong." Aduuh, masih ngoceh dia. 

Saya diam saja. 


Tidak lama kemudian, dia beralih ke sisi kiri sambil melihat mataku dan bertanya, "Mama kenapa?"

"Mama marah." jawabku pelan sambil melihat wajahnya. Aku lihat wajahnya seperti mulai mau menangis.

Tidak tahan diam berlama-lama, saya pun mengangkat dan memangkunya. Saya pun berkata pelan, "Tata tahu gak, kenapa mama marah? 
Mama khawatir, Tata jatuh. 
Mama juga marah karena buku-buku mama jadi berantakan lagi." 
Aku jelaskan dengan perlahan. Aku sengaja bicara pelan, agar dia belajar paham bahwa marahpun bisa diekspresikan dengan bicara baik-baik.
Aku tunggu sebentar sambil melihat ke wajahnya yang tertunduk di pangkuanku.
.
.

Tidak lama kemudian, dia pun berkata,"Maaf mama." sambil dia mencium dan memeluk saya. 
..
.. 

Nyess... rasanya.





***

21 August 2015

Buka Pintu, Buka Jendela

Akhirnya, jurnal pertama keluarga Samatha berhasil dibuka. Jurnal yang rencananya akan berisikan kisah-kisah hidup perjalanan seorang Renata Maria Samatha bersama keluarganya. Sebuah tempat yang akan digunakan sebagai rumah refleksi kami sekeluarga, keluarga Samatha.

Samatha diambil dari bahasa Pali yang berarti tenang, damai. Sebuah keadaan yang menjadi pusat niat kami. Istilah samatha salah satunya dapat dilihat melalui tautan berikut https://en.wikipedia.org/wiki/Samatha

Keluarga Samatha terdiri dari Atha, mama SisiL, dan papa Hans. Ada juga tambahan-tambahan anggota keluarga yang lain yang pasti akan masuk dalam cerita-cerita di jurnal ini. Sebut saja ada Umi, Eyang Yanti, Eyang Pit, Eyang Lili, Aunty, Ayah, Quinna, Uwi, dan masih banyak yang lain lagi.

Atha saat ini berusia 2 tahun 10 bulan. Yeaaay, sebentar lagi ulang tahun yang ke-3 tahun. Atha bisa dibilang merupakan anak yang cukup berani. Berani dalam arti, dia berani menjawab dan menanggapi pertanyaan orang lain selain keluarga. Karakternya cukup kuat. Dia mampu tampil menunjukkan apa dan siapa dirinya kepada orang lain. Dia bisa menjawab dan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang yang bahkan belum pernah dikenalnya.
Atha memiliki jiwa bebas. Bebas mau lari-lari, bebas mau teriak, bebas mau loncat-loncat. Atha berani minta makan jika perutnya terasa lapar. Berani minta jika dia rasa perlu, berani menolak jika ada yang tidak berkenan.

Atha itu anak yang memiliki kemauan yang keras. Tidak ada satu kata ‘Tidak’ yang langsung menghentikannya. Kalau tidak membahayakan biasanya akan dibiarkan saja. Seperti kemarin sore, makan keripik lalu setelah tinggal remah-remahnya, dia ‘tuangkan’ itu wadah kripik di lantai. Entah apa yang dicarinya. Atau bisa saja pada suatu hari kopi saya di meja makan sudah bercampur dengan tisue dan air putih, dan dituang-tuangkan dari satu wadah ke gelas, atau ke wadah yang lain. “Tata lagi masak.” Begitu jawabnya jika ditanya. Iseng. Iya, bisa saja dibilang begitu.

Atha itu iseng. Dia bisa sangat lucu dengan alasan-alasan yang dibuatnya. Seperti ketika dia tidak diijinkan untuk ikut bermain-main dengan laptop kerja mamanya, dia mencoba untuk tetap bisa main dengan berdalih dan mengatakan, “Tata mau pegang aja...” sambil tangannya menyentuh dan memegang layar laptop. Atau bisa dengan mengacak-acak alat makeup mamanya dengan alasan biar cantik kayak mama.

Atha itu keras kepala. Aduh, terdengar negatif ya.. apa ya padanannya untuk menunjukkan sikapnya yang keras jika sedang serius atau sedang melakukan sesuatu, tidak mau diberi arahan. Maunya melakukan sendiri. Saat ini, Atha berada pada fase negativistik, bawaannya marah-marah atau menangis. Tapi tidak lama kemudian, dia bisa teralih dan menceritakan hal tersebut sambil tersenyum atau tertawa. Seperti tadi malam, dia bermaksud membebat kaki boneka jerapahnya dengan tisue. Mungkin maksudnya diikat supaya tissue tersebut tidak terlepas, tetapi kemudian, karena memang tisue yang sifatnya mudah putus, selalu putus dan tidak berhasil dia bebatkan, belum lagi, dia belum memiliki kemampuan mengikat, maka tisue-pun tidak berhasil dibebatkan di kaki jerapahnya, dan mulailah dia berteriak-teriak dan menangis. “Niissaa...! Ihhh, Tata nissaaa..” sambil menjejak-jejakkan tangan dan kakinya. Saya pun menjelaskan bahwa tisue tidak bisa diikatkan ke kaki jerapah karena rapuh, saya mencoba menunjukkan kerapuhan tisue tersebut kepadanya. Mekipun tampaknya dia masih belum puas dan masih berteriak2 lagi.

Atha itu anak papanya (Daddy’s little girl). Bagaimana tidak, banyak kesenangan papanya, diturunkan ke Atha. Sebut saja senang makan pisang, senang jalan-jalan bereksplorasi, berenang, utek-utek, dan yang tidak bisa dibohongi yaitu wajahnya. Meskipun, saya sih lihatnya tetap ada kontribusi wajah saya kok di wajah Atha, kalau tidak, mana mungkin dia semanis itu... hihiiii.


Begitulah sekilas gambaran isi ‘rumah’ ini. Sesuai dengan judulnya “Buka pintu. Buka jendela” maka seperti itu jugalah isinya. Sila masuk dan mulai mengenal satu persatu tokohnya. Mari belajar bersama kami, untuk saling tertawa, saling berbagi, saling mendukung, saling mencinta, dan saling memahami.